lahir di Temanggung pada 8 Oktober 1952
Ia adalah anak guru agama yang juga berprofesi sebagai petani tembakau dan padi di Temanggung. Bambang adalah anak kelima dari 11 bersaudara. Masa kecil bersama keluarga sampai beranjak remaja ia jalani di desa sekitar Temanggung.
Ia menempuh pendidikan dasar di kotanya, Temanggung. Setelah lulus SD kemudian masuk ke SMP Negeri 2 Temanggung dan melanjut ke SMA Negeri 1 Temanggung. Setiap pagi menuju sekolah ia mengayuh sepeda dari desa ke Temanggung.
Hingga Pada tahun 1972, saat ia berumur 18 tahun, akhirnya Bambang muda merantau ke kota Yogya mencari ilmu yang lebih tinggi. Ia diterima di jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Orangtuanya habis-habisan mendukungnya dalam dana, padahal di keluarganya masih ada 6 adiknya, Tetapi dengan cita-cita yang tinggi semua itu ia jalani dengan semangat yang kuat. Syukurlah semua kesepuluh saudaranya dapat bersekolah semua hingga perguruan tinggi. Bambang berhasil menuntaskan kuliah S1 sebagai sarjana ekonomi dari UGM tahun 1977.
Ayahnya seorang guru yang memiliki idealisme yang tinggi luar biasa. Untuk ukuran pada waktu itu, ayahnya dikenal sebagai orang yang visioner, sebab tidak mungkin untuk seorang guru yang hanya memiliki beberapa hektar tanah berani menyekolahkan anaknya ke Yogya dan Semarang.
Ayahnya seorang yang mau melihat anaknya maju. Ketika ia dan saudara-saudaranya bersekolah, bisa dikatakan hampir seluruh penghasilan yang ada dalam keluarga, seluruhnya diberikan kepada anak-anaknya dan semua digunakan untuk menyiapkan mereka untuk hidup kemudian hari, terutama dalam mencapai ilmu pengetahuan. “Jadi begitu amat besar hutang kami kepada orangtua.” kenangnya.
Selesai dari bangku kuliah, ia mendapt tawaran untuk menjadi dosen di UGM. Sejak tahun 1978, Bambang pun mulai mengajar di almamaternya. Padahal waktu itu, sesungguhnya ia ingin sekali bekerja di Bank Indonesia dan bisa saja ia bekerja di BI, Depkeu, atau di bank-bank dan di bisnis besar. Karena tidak sulit bagi seorang sarjana akuntansi dalam memperoleh pekerjaan di Bank Indonesia, yang kesarjanaannya masih sangat langka. Hingga ada yang namanya tunjangan kelangkaan khusus untuk lulusan akuntansi.
Tetapi ia memilih menjadi dosen di UGM. Ayahnya sangat menginginkan ia menjadi dosen di UGM. Ia memilih jalan hidup ini oleh karena sikap hormat kepada ayah dan ibunya dan sebagai rasa ucapan terimakasih kepada orang tuanya yang telah membimbing dan dengan habis-habisan memberikan yang terbaik untuknya. Karena bagi ayahnya berprofesi sebagai dosen atau guru memiliki makna yang tinggi.
Bambang Sudibyo seorang Ph.D dalam administrasi bisnis dari University of Kentucky pada tahun 1985.
Bambang Sudibyo , seorang profesor, seorang menteri keuangan selama Pemerintahan Abdurrahman Wahid . kepercayaan dari Partai Mandat Nasional (PAN) pimpinan Amien Rais, Bambang adalah mantan ketua Asosiasi ekonom di Indonesia (ISEI) dan bendahara PAN. Sekarang Menjabat sebagai Menteri Pendidikan.
info www.tokohindonesia.com
Saturday, February 21, 2009
Rayakan Imlek, Kirab Jut Bio
Tahun baru Imlek dirayakan meriah di Kecamatan Parakan, Temanggung. Di kota berhawa sejuk yang pernah di juluki The Little China Town oleh penguasa kolonial Belanda ini, berbagai atraksi mengiringi kirab Kongco Hok Tek Cing Sin atau Jut Bio. Berbagai atribut ikut dikirab keliling kota, kemarin.
Liukan Liong, bendera Hok Tek Tong, bendera Hok Tek Cin Sin, dua buah Teng, Gembreng, Kio dan barisan berkaos merah bukan dari salah satu partai tapi merupakan ciri budaya Tionghoa. Antusiasme penonton dari berbagai kalangan campur baur membentengi jalan karena di barisan belakang ikut juga mangayubagyo kesenian tradisional Pandesiswo dari Desa Pandesari Parakan yang di nakodai H Yoto.
Kirab dimulai dari Klenteng Hok Tek Tong Jalan Letnan Suwaji No 6 Parakan. Klenteng ini didirikan sekitar tahun 1842 oleh Siek Hwie Soe di atas tanah pribadinya, namun pada tahun 1844 mengalami kebakaran. Atas prakarsa dari Letnan Lie Tiauw Pek mengumpulkan para dermawan, maka pada tahun 1877 kelenteng Hok Tek Tong dapat dibangun kembali.
Dari sejarah kota Parakan, peran Etnis Tionghoa tidak boleh diremehkan, mulai dari masa penjajahan Belanda sampai dengan sekarang, bahkan Etnis Tionghoa di Litle China Town ini mencapai 40 persen dari jumlah penduduk, walaupun sebagian keturunan Etnis Tionghoa telah berbaur baik secara lingkungan maupun perkawinan dengan wong asli Temanggung.
“Namun diharapkan budaya Tionghoa bisa memperkaya keanekaragaman budaya di Temanggung,” kata salah seorang panitia kirab, Yu Bien menjelaskan tentang perayaan imlek tahun ini.
Menurut penanggalan Tionghoa tahun ini adalah 2560 yang merupakan tahun dengan Shio Kerbau yang diprediksi akan penuh gejolak, tapi masyarakatnya masih bisa terjalin keutuhannya, tidak tercerai berai secara etnis. Makna lain adalah apabila seseorang dimotivasi atau diberi dukungan maka akan mengendorkan semangatnya, namun sebaliknya apabila digembosi serta dikecilkan hatinya maka akan timbul semangatnya.
“Inilah Temanggung yang kaya akan budaya dari berbagai pelosok, termasuk dari negeri sebrang, akankah kita menyia-nyiakan keutuhan Temanggung yang telah terbina selama ini,” tutur
info RadarJogja
Liukan Liong, bendera Hok Tek Tong, bendera Hok Tek Cin Sin, dua buah Teng, Gembreng, Kio dan barisan berkaos merah bukan dari salah satu partai tapi merupakan ciri budaya Tionghoa. Antusiasme penonton dari berbagai kalangan campur baur membentengi jalan karena di barisan belakang ikut juga mangayubagyo kesenian tradisional Pandesiswo dari Desa Pandesari Parakan yang di nakodai H Yoto.
Kirab dimulai dari Klenteng Hok Tek Tong Jalan Letnan Suwaji No 6 Parakan. Klenteng ini didirikan sekitar tahun 1842 oleh Siek Hwie Soe di atas tanah pribadinya, namun pada tahun 1844 mengalami kebakaran. Atas prakarsa dari Letnan Lie Tiauw Pek mengumpulkan para dermawan, maka pada tahun 1877 kelenteng Hok Tek Tong dapat dibangun kembali.
Dari sejarah kota Parakan, peran Etnis Tionghoa tidak boleh diremehkan, mulai dari masa penjajahan Belanda sampai dengan sekarang, bahkan Etnis Tionghoa di Litle China Town ini mencapai 40 persen dari jumlah penduduk, walaupun sebagian keturunan Etnis Tionghoa telah berbaur baik secara lingkungan maupun perkawinan dengan wong asli Temanggung.
“Namun diharapkan budaya Tionghoa bisa memperkaya keanekaragaman budaya di Temanggung,” kata salah seorang panitia kirab, Yu Bien menjelaskan tentang perayaan imlek tahun ini.
Menurut penanggalan Tionghoa tahun ini adalah 2560 yang merupakan tahun dengan Shio Kerbau yang diprediksi akan penuh gejolak, tapi masyarakatnya masih bisa terjalin keutuhannya, tidak tercerai berai secara etnis. Makna lain adalah apabila seseorang dimotivasi atau diberi dukungan maka akan mengendorkan semangatnya, namun sebaliknya apabila digembosi serta dikecilkan hatinya maka akan timbul semangatnya.
“Inilah Temanggung yang kaya akan budaya dari berbagai pelosok, termasuk dari negeri sebrang, akankah kita menyia-nyiakan keutuhan Temanggung yang telah terbina selama ini,” tutur
info RadarJogja
Subscribe to:
Posts (Atom)